Lewati ke konten

Panduan Haji

Sejarah Singkat Rangkaian Ibadah Haji

Halaman bab

Air Zamzam dan Sa'i antara Safa dan Marwah

2 menit bacaTerakhir diperbarui 23 Agustus 2026

Dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abbas (ra.) disebutkan, “Ibrahim (as.) membawa Hajar dan putranya yang masih menyusu, Ismail, lalu meninggalkan keduanya di dekat Baitullah, di sisi sebuah pohon di atas Zamzam. Pada waktu itu, tidak ada seorang pun di Makkah. Di sana juga tidak tersedia air. Ibrahim (as.) meninggalkan satu wadah berisi kurma dan satu lagi berisi air, kemudian berangkat untuk kembali. Ibu Ismail (as.) mengikutinya. Ia berkata, ‘Ke manakah engkau pergi dengan meninggalkan kami di tanah yang tidak berpenghuni serta tidak ditumbuhi rumput dan tumbuhan ini?’ Ia mengucapkan hal itu kepada Ibrahim (as.) beberapa kali. Ibrahim terus berjalan ke depan tanpa menoleh kepadanya. Kemudian ia bertanya, ‘Apakah Allah yang memerintahkanmu?’ ‘Ya,’ jawab Ibrahim (as.). ‘Kalau begitu, Allah tidak akan membinasakan kami.’ Hajar pun kembali. Ibrahim terus berjalan. Ketika memasuki jalan sempit di antara dua gunung, di tempat tidak ada seorang pun yang dapat melihatnya, ia berdiri menghadap Baitullah. Dengan mengangkat kedua tangannya, ia berdoa, ‘Ya Allah! Sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di sebuah lembah yang tidak memiliki tanaman, di dekat rumah-Mu yang suci. Ya Allah, agar mereka mendirikan salat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia tertarik kepada mereka, dan berilah mereka rezeki berupa buah-buahan, agar mereka bersyukur.’[1] Ibu Ismail (as.) terus menyusuinya dan ia sendiri minum dari air tersebut. Ketika air dalam wadah itu habis, ia merasa haus. Anaknya pun kehausan. Ketika melihat anaknya menderita karena kehausan, ia menjauh agar tidak merasa sedih melihat anaknya dalam keadaan demikian. Di antara gunung-gunung yang ada, ia mendapati Safa sebagai yang paling dekat. Ia mendaki Safa dan berdiri menghadap lembah untuk melihat apakah ada seseorang. Karena tidak melihat siapa pun, ia turun dari Safa. Ketika sampai di lembah, ia mengangkat ujung gamisnya dan berjalan cepat seperti orang yang kepayahan. Ia melintasi lembah itu, lalu mendaki Marwah. Ia berdiri di Marwah dan melihat-lihat apakah ada seseorang. Karena tidak melihat siapa pun, ia turun dari Marwah. Demikianlah ia bolak-balik di antara kedua gunung itu sebanyak tujuh kali. Ibnu Abbas (ra.) berkata bahwa Rasulullah (ﷺ)bersabda, ‘Inilah sebabnya manusia melakukan sai antara Safa dan Marwah.’ Ketika berada di atas Marwah, ia mendengar sebuah suara, lalu berkata kepada dirinya sendiri, ‘Diamlah!’ Ia kembali mendengar suara itu, lalu berkata, ‘Aku telah mendengarmu. Namun, katakanlah apakah engkau memiliki pertolongan.’ Ia melihat seorang malaikat di tempat Zamzam sedang menggali tanah dengan tumit atau sayapnya. Hingga akhirnya air pun memancar keluar, lalu ia mulai membendung air itu seperti sebuah kolam. Ibnu Abbas (ra.) berkata bahwa Rasulullah (ﷺ)bersabda, ‘Semoga Allah merahmati ibu Ismail. Seandainya ia membiarkan Zamzam—dalam riwayat lain, seandainya ia tidak menampung air Zamzam—niscaya Zamzam akan menjadi mata air yang mengalir.’

Malaikat itu berkata kepada Hajar, “Jangan takut akan terlantar, karena di sinilah Baitullah, yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya. Dan Allah tidak membinasakan penghuninya.”[2]

[1] -Surah Ibrahim: 37

[2] Lihat kisah ini secara terperinci dalam Sahih Bukhari: 1/474-475