Lewati ke konten

Panduan Haji

9 Zulhijah

Halaman bab

Berangkat menuju Arafah dan menetap di sana

7 menit bacaTerakhir diperbarui 10 September 2026

1. Sunahnya adalah melaksanakan salat Subuh di Mina pada waktu fajar tanggal 9 Zulhijah.[1] Setelah matahari terbit, berangkat menuju Arafah dengan tenang sambil membaca talbiyah. Tidak mengapa pula jika membaca takbir. Anas r.a. berkata,

«كَانَ يُلَبِّي الْمُلَبِّي لاَ يُنْكَرُ عَلَيْهِ وَيُكَبِّرُ الْمُكَبِّرُ فَلاَ يُنْكَرُ عَلَيْهِ».

‘Orang yang membaca talbiyah membaca talbiyah, dan Rasulullah saw. tidak menganggapnya sebagai kesalahan. Orang yang membaca takbir pun membaca takbir, dan beliau juga tidak menganggapnya sebagai kesalahan.’[2]

2. Sunahnya adalah, setelah matahari tergelincir, melaksanakan salat Zuhur dan Asar secara bersamaan di Masjid Namirah di belakang imam haji, kemudian memasuki Padang Arafah. Rasulullah saw. singgah di Namirah sebelum waktu Zuhur. Di sana, beliau beristirahat hingga Zuhur di kemah yang didirikan untuk beliau. Namirah berada di luar Arafah, tetapi terletak di perbatasan Arafah. Setelah matahari tergelincir, beliau melaksanakan salat Zuhur dan Asar pada awal waktu Zuhur, lalu memasuki Arafah.’[3]

Pada masa sekarang, mengamalkan sunah ini hampir mustahil. Namun, jika seseorang mengenal jalan dengan baik dan yakin dapat kembali sendirian kepada rekan-rekannya di Arafah, atau memiliki kekuatan, keberanian, dan keyakinan diri untuk pergi sendirian ke Muzdalifah, bermalam di sana, lalu kembali dari sana ke tenda di Mina, maka ia dapat melaksanakan sunah ini di Masjid Namirah.

3. Sunahnya adalah imam haji menyampaikan khutbah yang sesuai dengan keadaan kepada para jemaah haji. Dalam khutbah itu, ia membahas tauhid dan hukum-hukum Islam yang diperlukan. Ia memberikan pemahaman kepada para jemaah haji mengenai hukum-hukum haji, mengingatkan mereka tentang tobat, serta menyeru mereka agar tetap teguh berpegang pada Al-Qur’an dan Sunah. Hal ini sebagaimana yang dilakukan Rasulullah saw. ketika menyampaikan khutbah Haji Wada di Arafah.

4. Sunahnya adalah melaksanakan salat Zuhur dan Asar secara qasar dan jamak pada waktu Zuhur, serta tidak melaksanakan salat sunah ataupun salat nafilah. Ketentuan ini berlaku bagi seluruh jemaah haji. Tidak ada perbedaan antara penduduk Makkah, orang yang tinggal di sekitar Arafah, dan jemaah haji yang datang dari tempat jauh. Rasulullah saw. bersama para sahabat melaksanakan salat Zuhur dan Asar secara qasar dan jamak pada waktu Zuhur. Seluruh jemaah haji yang hadir melaksanakan kedua salat tersebut bersama Rasulullah saw. secara qasar dan jamak. Beliau tidak memerintahkan seorang pun untuk melaksanakan salat secara sempurna. Memang, dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa ketika penaklukan Makkah pada tahun 8 Hijriah, Rasulullah saw. berkata kepada penduduk Makkah,

«يَا أَهْلَ مَكَّةَ ، أَتِمُّوا ؛ فَإِنَّا قَوْمٌ سَفْرٌ».

‘Wahai penduduk Makkah, sempurnakanlah salat kalian, karena kami adalah musafir.’[4] Namun, beliau tidak mengatakan hal tersebut ketika Haji Wada. Oleh karena itu, pendapat yang sahih adalah bahwa mengqasar dan menjamak kedua salat pada waktu ini merupakan sunah. Tidak mengqasar dan tidak menjamak adalah keliru. Mengenai Haji Wada, Jabir r.a. berkata,

«أَنَّ رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَتَى بَطْنَ الوَادِيْ فَخَطَبَ النَّاسَ، ثُمَّ أَذَّنَ، ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الظُّهْرَ، ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الْعَصْرَ وَلَمْ يُصَلِّ بَيْنَهُمَا شَيْئًا».

‘Nabi saw. tiba di tengah lembah. Beliau menyampaikan khutbah kepada orang-orang. Setelah itu, Bilal mengumandangkan azan dan ikamah, lalu beliau saw. mengimami salat Zuhur. Kemudian Bilal kembali mengumandangkan ikamah, dan beliau saw. melaksanakan salat Asar. Beliau tidak melaksanakan salat lainnya di antara kedua salat tersebut.’[5]

5. Ibnu Umar r.a. tetap menjamak salat Zuhur dan Asar meskipun tidak mendapatkan salat berjemaah di belakang imam haji. Dalam Sahih Bukhari terdapat sebuah riwayat,

«وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا إِذَا فَاتَتْهُ الصَّلاَةُ مَعَ الإِمَامِ جَمَعَ بَيْنَهُمَا».

‘Ibnu Umar r.a. tetap melaksanakan kedua salat secara bersamaan meskipun tertinggal salat bersama imam.’[6]

Nafi‘ rah. yang merupakan perawi hadis terkenal berkata, ‘Jika pada hari Arafah Ibnu Umar r.a. tidak mendapatkan salat bersama imam, ia melaksanakan salat Zuhur dan Asar secara bersamaan di tempat ia singgah.’[7]

Dua imam terkenal dalam mazhab Hanafi, Imam Muhammad rah. dan Imam Abu Yusuf rah., juga menyatakan pendapat yang sama:

مُحَمَّدٌ قَالَ: أَخْبَرَنَا أَبُوْ حَنِيْفَةَ، عَنْ حَمَّادٍ، عَنْ إِبْرَاهِيْمَ، قَالَ: إِذَا صَلَّيتَ يَوْمِ عَرَفَةَ فِيْ رِحْلِِكَ فَصَلِّ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنَ الصَّلاَتَيْنِ لِوَقْتِهَا، َوتَرْتَحِلُ مِنْ مُنْزِلٍ حَتَّى تَفْرُغَ مِنَ الصَّلاَةِ، قَالَ مُحَمَّدٌ: وَبِهَذَا كَانَ يَأْخُذُ أَبُوْ حَنِيْفَةَ، فَأَمَّا فِيْ قَوْلِنَا فَإِنَّهُ يُصَلِّيْهَا فِيْ رِحْلِهِ كَمَا يُصَلِّيْهَا مَعَ الإِمَامِ، يَجْمَعُهُمَا جَمِيْعًا بِأَذَانٍ وَإِقَامَتَيْنِ، لأَنَّ الْعَصْرَ إِِنَّمَا قُدِّمَتْ لِلْوُقُوْفِ وَكَذَلِكَ بَلَغَنَا عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَعَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ، وَعَنْ عَطَاءَ بْنِ أَبِيْ رَبَاحٍ، وَعَنْ مُجَاهِدٍ .

‘Imam Muhammad rah. berkata, Imam Abu Hanifah rah. telah memberitahukan kepada kami melalui jalur Hammad—Ibrahim. Ia berkata, jika pada hari Arafah engkau melaksanakan salat di tempat engkau singgah, maka engkau melaksanakan masing-masing dari kedua salat itu pada waktunya masing-masing, kemudian setelah selesai salat engkau berangkat dari tempat engkau singgah. Imam Muhammad rah. berkata, Imam Abu Hanifah rah. berpendapat demikian. Namun, pendapat kami adalah bahwa jemaah haji melaksanakan kedua salatnya di tempat ia singgah, persis sebagaimana ia melaksanakannya di belakang imam. Ia melaksanakan kedua salat itu secara bersamaan dengan satu azan dan dua ikamah. Sebab, salat Asar dimajukan demi pelaksanaan wukuf. Demikianlah yang sampai kepada kami dari Ummul Mukminin Aisyah r.a., Abdullah bin Umar, Atha bin Abi Rabah, dan Mujahid rah.’[8]

Oleh karena itu, baik dapat maupun tidak dapat melaksanakan salat berjemaah di belakang imam haji, dalam segala keadaan menjamak salat Zuhur dan Asar merupakan sunah.

6. Setelah salat, para jemaah haji yang belum memasuki wilayah Arafah hendaknya memasukinya. Orang-orang yang melaksanakan salat di Masjid Namirah harus benar-benar memperhatikan hal ini. Sebab, bagian Masjid Namirah yang mengarah ke kiblat berada di luar batas Arafah. Ingatlah, jika seseorang berada di luar Arafah, hajinya tidak sah.

7. Setelah itu, hendaknya mereka menyibukkan diri dengan doa dan munajat. Baik dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berjalan, yakni dalam segala keadaan, hendaknya mereka terus berdoa dan berzikir. Sejak selesai salat hingga matahari terbenam, hendaknya mereka banyak berdoa, berzikir, dan beristigfar dengan suara pelan sambil mengangkat kedua tangan. Usamah bin Zaid r.a. berkata,

«كُنْتُ رَدِيفَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم بِعَرَفَاتٍ فَرَفَعَ يَدَيْهِ يَدْعُو فَمَالَتْ بِهِ نَاقَتُهُ فَسَقَطَ خِطَامُهَا فَتَنَاوَلَ الْخِطَامَ بِإِحْدَى يَدَيْهِ وَهُوَ رَافِعٌ يَدَهُ الأُخْرَى».

‘Aku berada di atas unta di belakang Rasulullah saw. di Arafah. Saat itu beliau mengangkat kedua tangannya dan berdoa. Kemudian unta betina beliau membungkuk sambil membawa beliau sehingga tali kekangnya terjatuh. Rasulullah saw. mengambil tali kekang itu dengan salah satu tangan beliau, sedangkan tangan beliau yang lain tetap terangkat.’[9]

Rasulullah saw. juga bersabda,

«خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِى. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِير».

‘Doa terbaik adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik kalimat yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah: (La ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir.) “Tidak ada ilah selain Allah. Dia Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”’[10]

Membaca Al-Qur’an, mengikuti majelis ceramah dan nasihat, dan sebagainya juga termasuk amalan selama berada di Arafah. Namun, bagi kaum perempuan, petunjuknya adalah berdoa, berzikir, dan membaca Al-Qur’an dengan suara pelan sambil duduk. Manfaatkanlah secara khusus waktu di penghujung hari. Hendaknya benar-benar tenggelam dalam doa.

8. Seluruh wilayah Arafah merupakan tempat wukuf bagi para jemaah haji. Ingatlah, Lembah ‘Uranah berada di luar tempat wukuf Arafah. Nabi saw. bersabda,

«كُلُّ عَرَفَةَ مَوْقِفٌ ، وَارْتَفِعُوا عَنْ بَطْنِ عُرَنَةَ»

‘Seluruh wilayah Arafah adalah tempat wukuf. Namun, tinggalkanlah Bathn ‘Uranah.’[11]

Sebagian Masjid Namirah saat ini dan daerah rendah di sebelahnya merupakan Bathn ‘Uranah atau Lembah ‘Uranah. Oleh karena itu, jangan sampai ada orang yang melakukan wukuf di sana. Setelah melaksanakan salat di Masjid Namirah, pergilah ke bagian masjid yang berada di dalam wilayah Arafah dan lakukanlah wukuf di sana. Saat ini, di dalam masjid terdapat tanda penunjuk batas Arafah dengan lampu berwarna biru. Oleh karena itu, perhatikanlah hal ini.

[1]. Saat ini, karena jumlah jemaah haji telah meningkat, mereka dibawa ke Arafah sebelum waktu Subuh. Tentu saja hal ini bertentangan dengan sunah. Namun, jika sunah ini terlewat karena kondisi dan keadaan, insyaallah tidak menjadi masalah.

[2]. Bukhari: 975; Muslim: 1285.

[3]. Bukhari: 1660; Muslim: 1218.

[4]. Baihaqi: 3/135; Musnad Ahmad: 4/432. (Sanad hadis ini lemah. Namun, dalam Muwatta Malik, riwayat ini dinukil dari Umar r.a. sebagai ucapannya sendiri. Suatu ketika ia datang ke Makkah dan melaksanakan salat secara qasar bersama rekan-rekannya. Kemudian ia memerintahkan penduduk setempat yang melaksanakan salat bersamanya agar menyempurnakan salat mereka. Muwatta: 1/140, 202.)

[5]. Muslim: 1218.

[6]. Bukhari: 1662.

[7]. Ja‘far Ahmad Usmani, I‘laus Sunan, 7/3073, Darul Fikr, Beirut, 2001.

[8]. Ja‘far Ahmad Usmani, sumber yang telah disebutkan.

[9]. Musnad Ahmad: 21870; Sunan Nasai: 3011.

[10]. Tirmizi: 3575.

[11]. Muwatta Malik: 301; Musnad Ahmad: 16797.