Lewati ke konten

Panduan Haji

9 Zulhijah

Halaman bab

9 Zulhijah: Hari Arafah - Keutamaan Hari Arafah

5 menit bacaTerakhir diperbarui 10 September 2026

Keutamaan Hari Arafah

Tanggal 9 bulan Zulhijah disebut “Yaumul Arafah” atau Hari Arafah. Wukuf di Arafah pada hari ini merupakan amalan haji yang paling utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Haji adalah Arafah.”[1] Oleh karena itu, wukuf di Arafah adalah wajib. Haji tidak sah tanpa wukuf di Arafah. Keutamaan hari ini mendekati keutamaan Yaumun Nahr atau Hari Kurban. Setiap saudara yang menunaikan haji hendaknya beramal pada hari ini dengan penuh kesungguhan. Berbagai hadis telah diriwayatkan mengenai keutamaan hari ini. Berikut ini disebutkan beberapa di antaranya:

1. Pada Hari Arafah, Allah Ta‘ala mendekat kepada hamba-hamba-Nya dan membebaskan hamba dalam jumlah terbanyak dari api neraka. Diriwayatkan dari Aisyah r.a., Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ»

“Tidak ada suatu hari ketika Allah Ta‘ala membebaskan lebih banyak hamba dari api neraka daripada Hari Arafah. Pada hari itu Allah mendekat, lalu membanggakan mereka di hadapan para malaikat seraya berfirman, ‘Apa yang mereka inginkan?’”[2]

2. Allah Ta‘ala membanggakan orang-orang yang wukuf di Arafah di hadapan para penghuni langit. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُبَاهِى بِأَهْلِ عَرَفَاتٍ أَهْلَ السَّمَاءِ فَيَقُولُ لَهُمُ : انْظُرُوا إِلَى عِبَادِى جَاءُونِى شُعْثًا غُبْرًا»

“Sesungguhnya Allah Ta‘ala membanggakan orang-orang yang wukuf di Arafah di hadapan para penghuni langit. Dia berfirman kepada mereka, ‘Lihatlah hamba-hamba-Ku. Mereka datang kepada-Ku dalam keadaan kusut dan berdebu.’”[3]

3. Hari Arafah adalah hari disempurnakannya agama dan nikmat Allah yang diberikan kepada umat Islam. Thariq bin Syihab berkata, “Orang-orang Yahudi berkata kepada Umar r.a., ‘Kalian membaca suatu ayat. Seandainya ayat itu diturunkan kepada kami, niscaya kami akan merayakan hari turunnya.’ Umar r.a. berkata, ‘Aku benar-benar mengetahui untuk tujuan apa dan di mana ayat itu diturunkan, serta di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada ketika ayat itu diturunkan. Saat itu adalah Hari Arafah. Demi Allah! Kami berada di Padang Arafah. (Hari itu adalah hari Jumat.) (Ayat tersebut adalah

﴿ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ ﴾ [المائ‍دة: ٣]

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian untuk kalian.”)’[4]

4. Jibril ‘alaihis salam telah menyampaikan salam dari Allah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk orang-orang yang wukuf di Arafah dan bermalam di Muzdalifah, serta telah menanggung pelanggaran-pelanggaran mereka. Diriwayatkan dari Anas r.a., sebelum matahari terbenam di Padang Arafah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Bilal r.a. agar meminta orang-orang diam. Bilal r.a. berkata, “Diamlah untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Setelah orang-orang diam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«يَا مَعْشَرَ النَّاسِ أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ آنِفًا فَأَقَرَأَنِيْ مِن رَّبِيْ السَّلاَمُ لأَهْلِ عَرَفَاتَ وَأَهْلِ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَضَمِنَ عَنْهُمْ التَّبِعَاتِ».

“Wahai sekalian manusia, sesaat yang lalu Jibril datang kepadaku. Dia menyampaikan kepadaku salam dari Tuhanku untuk orang-orang yang wukuf di Arafah dan bermalam di Muzdalifah, serta menanggung pelanggaran-pelanggaran mereka.” Umar r.a. berdiri lalu berkata, “Wahai Rasulullah! Apakah ini hanya untuk kami?” Beliau bersabda, “Ini untuk kalian dan orang-orang yang datang setelah kalian hingga Hari Kiamat.” Umar r.a. berkata, “Rahmat Allah sangat melimpah dan baik.”[5]

5. Allah Ta‘ala secara khusus mengampuni orang-orang yang wukuf di Arafah. Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«وَأَمَّا وُقُوفُكَ بِعَرَفَةَ فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيُبَاهِي بِهِمُ الْمَلائِكَةَ، فَيَقُولُ:هَؤُلاءِ عِبَادِي جَاءُونِي شُعْثًا غُبْرًا مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ يَرْجُونَ رَحْمَتِي، وَيَخَافُونَ عَذَابِي، وَلَمْ يَرَوْنِي، فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي؟ فَلَوْ كَانَ عَلَيْكَ مِثْلُ رَمْلِ عَالِجٍ، أَوْ مِثْلُ أَيَّامِ الدُّنْيَا، أَوْ مِثْلُ قَطْرِ السَّمَاءِ ذُنُوبًا غَسَلَ اللَّهُ عَنْكَ».

“Adapun wukufmu di Arafah, maka ketika itu Allah turun ke langit dunia. Kemudian Dia membanggakan orang-orang yang wukuf di Arafah di hadapan para malaikat seraya berfirman, ‘Mereka adalah hamba-hamba-Ku. Mereka datang kepada-Ku dari berbagai pelosok dalam keadaan kusut dan berdebu. Mereka mengharapkan rahmat-Ku dan takut akan azab-Ku, padahal mereka belum melihat-Ku. Bagaimana kiranya jika mereka melihat-Ku?’ Kemudian, sekalipun engkau memiliki dosa sebanyak butiran pasir di padang pasir yang luas, atau sebanyak seluruh hari di dunia, atau sebanyak tetesan hujan dari langit, Allah akan membasuh dan membersihkannya.”[6]

6. Doa pada Hari Arafah adalah doa yang terbaik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ».

“Doa terbaik adalah doa pada Hari Arafah.”[7]

7. Orang-orang yang tidak datang untuk menunaikan haji, apabila berpuasa pada Hari Arafah, dosa mereka setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya akan diampuni. Diriwayatkan dari Abu Qatadah r.a., ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa Hari Arafah, beliau bersabda,

«يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ».

“Puasa pada Hari Arafah menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.”[8]

Namun, puasa ini bukan untuk jamaah haji, melainkan untuk mereka yang tidak datang menunaikan haji. Bagi jamaah haji, berpuasa pada Hari Arafah bertentangan dengan Sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa pada Hari Arafah ketika Haji Wada‘; bahkan beliau minum susu di hadapan semua orang.”[9] Ikrimah berkata, “Aku masuk ke rumah Abu Hurairah r.a. dan bertanya kepadanya mengenai puasa pada Hari Arafah ketika berada di Padang Arafah. Ia berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berpuasa pada Hari Arafah di Padang Arafah.’”[10] Bahkan, apabila jamaah haji tidak berpuasa pada hari itu, hal tersebut akan lebih membantunya untuk memperbanyak doa, zikir, istigfar, serta ibadah dan penghambaan kepada Allah.

[1]. Musnad Ahmad, 4/335.

[2]. Muslim: 1348.

[3]. Musnad Ahmad: 2/224.

[4]. Bukhari: 4606. Dalam menjelaskan penyempurnaan agama pada Hari Arafah, Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Pada hari itu, agama disempurnakan dalam beberapa hal. Pertama, setelah haji diwajibkan, kaum Muslimin sebelumnya belum pernah menunaikan haji dalam suasana Islam yang sepenuhnya. Mayoritas ulama menyatakan pendapat ini. Kedua, Allah Ta‘ala mengembalikan haji (pada hari ini) kepada landasan ajaran Ibrahim dan memisahkannya dari kesyirikan serta orang-orang musyrik. Setelah itu, tidak seorang pun dari mereka bergabung dengan kaum Muslimin di tempat Arafah tersebut. Adapun penyempurnaan nikmat terjadi dengan diperolehnya ampunan dan maaf dari Allah. Sebab, nikmat tidak menjadi sempurna tanpa ampunan Allah. Sebagai contohnya, Allah Ta‘ala berfirman kepada Nabi-Nya,

لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا

“Agar Allah mengampuni kesalahanmu yang telah lalu dan yang akan datang, menyempurnakan nikmat-Nya atasmu, dan menunjukkanmu ke jalan yang lurus (Al-Fath: 2).” Latha’iful Ma‘arif: 486.

[5]. Shahihut Targhib wat Tarhib: 1151.

[6]. Abdur Razzaq, Al-Mushannaf: 8830.

[7]. Tirmidzi: 2837; Muwaththa’ Malik: 1/422.

[8]. Muslim: 1163.

[9]. Muslim: 1123; Musnad Ahmad: 2/304.

[10]. Musnad Ahmad: 2/304.