Begitu tiba di dekat Ka‘bah, hentikanlah membaca talbiyah. Setelah sampai di Hajar Aswad, menghadaplah kepadanya. Jika memungkinkan, sentuhlah dengan tangan kanan dan ciumlah, serta jangan menyakiti orang lain dengan berdesak-desakan. Ketika menyentuh Hajar Aswad, ucapkanlah:
بِسْمِ اللهِ، وَاللهُ أَكْبَرُ
(Bismillahi wallahu akbar)
Atau ucapkanlah:
اللهُ أَكْبَرُ
(Allahu akbar)
Jika sulit mencium Hajar Aswad, sentuhlah dengan tangan atau tongkat, kemudian ciumlah benda yang digunakan untuk menyentuhnya. Jika menyentuhnya pun sulit, berilah isyarat ke arah Hajar Aswad seraya mengucapkan:
اللهُ أَكْبَرُ
(Allahu akbar)
Namun, dalam keadaan ini jangan mencium tangan atau benda yang digunakan untuk memberi isyarat.
Ingatlah, syarat sah tawaf adalah berada dalam keadaan suci dari segala jenis hadas kecil maupun besar; karena tawaf itu seperti salat, hanya saja berbicara diperbolehkan ketika tawaf.
5. Ketika melakukan tawaf, posisikan Baitullah, Ka‘bah, di sebelah kiri dan lakukanlah tawaf mengelilingi Ka‘bah sebanyak tujuh putaran. Ketika sampai di Rukun Yamani, sentuhlah dengan tangan kanan jika memungkinkan. Namun, jangan mencium Rukun Yamani. Jika tidak memungkinkan untuk menyentuh Rukun Yamani, lewatilah dan teruskan tawaf tanpa memberi isyarat atau mengucapkan takbir apa pun; karena hal itu tidak diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, setiap kali sampai di Hajar Aswad, sentuh dan ciumlah serta ucapkan takbir, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Jika tidak memungkinkan untuk menyentuhnya, berilah isyarat ke arahnya dan ucapkan takbir.
Dalam tawaf ini, disunnahkan bagi laki-laki untuk melakukan idtiba‘, yaitu meletakkan bagian tengah kain selendang ihram di bawah ketiak kanan dan meletakkan kedua ujungnya di atas bahu kiri. Disunnahkan pula bagi laki-laki untuk melakukan ramal pada tiga putaran pertama tawaf. Ramal adalah berjalan cepat dengan langkah-langkah pendek.
Tidak ada doa atau zikir tertentu yang dikhususkan ketika melakukan tawaf. Pada setiap putaran dianjurkan membaca zikir dan doa yang sesuai dengan syariat menurut kehendaknya. Namun, disunnahkan membaca doa berikut di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad pada setiap putaran tawaf:
﴿رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ حَسَنَةٗ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ٢٠١﴾ [البقرة:201]
(Rabbana atina fid-dunya hasanatan wa fil-akhirati hasanatan wa qina ‘adzaban-nar)
“Wahai Tuhan kami! Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari api neraka.” [Surah Al-Baqarah: 201]
Jika memungkinkan, akhirilah putaran ketujuh dengan menyentuh dan mencium Hajar Aswad seraya mengucapkan takbir. Namun, jika tidak memungkinkan, cukup memberi isyarat dan mengucapkan takbir sebagaimana sebelumnya.
Setelah selesai tawaf, kenakan kembali kain selendang ihram dengan baik, yaitu tutuplah bahu dan dada dengan kain. Jangan tetap dalam keadaan idtiba‘. Kemudian, jika memungkinkan, kerjakanlah salat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim meskipun agak jauh. Jika tidak memungkinkan, kerjakanlah salat di tempat mana pun yang memungkinkan di dalam masjid. Pada rakaat pertama, setelah Surah Al-Fatihah, lebih utama membaca قل يا أيها الكافرون (Surah Al-Kafirun), dan pada rakaat kedua membaca قل هو الله أحد (Surah Al-Ikhlas). Tidak mengapa membaca surah lainnya. Setelah salat dua rakaat ini, jika memungkinkan untuk mencium Hajar Aswad, lakukanlah.
6. Setelah selesai salat, minumlah air Zamzam, kemudian berangkatlah menuju Bukit Safa untuk melakukan sa‘i. (Tambahan dari pihak HadisBD)
Tata Cara Melaksanakan Umrah Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah — Dr. Abu Bakar Muhammad Zakaria