Lewati ke konten

Panduan Umrah

Umrah Langkah demi Langkah

Halaman bab

Langkah ke-1: Ihram Umrah

2 menit bacaTerakhir diperbarui 29 Agustus 2026

Mengenakan ihram sebelum miqat

Laki-laki harus menghindari segala pakaian berjahit (seperti baju, celana, kaus dalam, dan sebagainya yang dibuat dalam bentuk pakaian). Ia hendaknya mengenakan sehelai kain sarung dan kain selendang serta membiarkan kepalanya terbuka. Namun, disunahkan agar kedua kain ihram tersebut berwarna putih dan bersih.

Adapun perempuan, ia berihram dengan pakaian biasanya. Ia harus memastikan agar pakaiannya tidak mengandung kemewahan atau menarik perhatian.

Berniat umrah di miqat dan mengucapkan talbiyah

Kemudian ia berniat dalam hati (bertekad kuat) untuk mulai melaksanakan amalan umrah, lalu mengucapkan dengan lisan:

لَبَّيْكَ عُمْرَةً

(Labbaika ‘umratan)

“Aku datang memenuhi panggilan-Mu untuk menunaikan umrah.”

Atau mengucapkan:

اَللَّهُمَّ لَبَّيْكَ عُمْرَةً

(Allahumma labbaika ‘umratan)

“Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu untuk menunaikan umrah.”

Jika hendak melaksanakan umrah untuk orang lain (apabila Anda sebelumnya telah menunaikan umrah untuk diri sendiri), ucapkanlah:

اَللَّهُمَّ لَبَّيْكَ عُمْرَةً مِنْ فُلانٍ

(Allahumma labbaika ‘umratan min fulan)

“Ya Allah, aku datang untuk menunaikan umrah atas nama si fulan (dengan menyebut namanya).”

Jika orang yang berihram khawatir tidak mampu melaksanakan umrah karena sakit atau takut terhadap musuh, ia boleh mengajukan syarat ketika berihram. Ia dapat mengucapkan:

«فِإِنْ حَبَسَنِيْ حَابِسٌ فَمَحَلِّيْ حَيْثُ حَبَسْتَنِيْ»

(Fa in habasani habisun fa mahilli haitsu habastani)

“Jika suatu penghalang menghalangiku, maka tempat aku menjadi halal adalah di tempat aku terhalang.”

Seorang sahabiyah, Dhuba‘ah binti Zubair radhiyallahu ‘anha, berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: Aku ingin menunaikan haji, tetapi aku khawatir akan jatuh sakit. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya:

«حُجِّي، وَاشْتَرِطِي أَنَّ مَحِلِّي حَيْثُ حَبَسْتَنِي»

“Mulailah menunaikan haji dan ajukanlah syarat, lalu ucapkan: Jika suatu penghalang menghalangiku, maka tempat aku menjadi halal adalah di tempat aku terhalang.” [Muslim: 1207]

Kemudian ucapkanlah talbiyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu:

«لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ»

(Labbaika Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal-hamda wan-ni‘mata laka wal-mulk, la syarika lak)

“Untuk menunaikan umrah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Ya Allah! Aku datang memenuhi panggilan-Mu, aku hadir di hadapan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian dan seluruh nikmat adalah milik-Mu, demikian pula kerajaan. Tiada sekutu bagi-Mu.”

Laki-laki mengucapkan doa tersebut dengan suara keras, sedangkan perempuan mengucapkannya dengan pelan. Setelah itu, perbanyaklah membaca talbiyah serta berdoa, berzikir, dan beristigfar.

Setelah tiba di Makkah yang suci, mandilah jika memungkinkan. Kemudian, ketika memasuki Masjidil Haram, masuklah dengan kaki kanan sambil membaca doa berikut:

«بِسْمِ اللهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلى رَسُوْلِ اللهِ، أَعُوذُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، اللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ»

(Bismillahi wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah, a‘udzu billahil-‘azhim wa bi wajhihil-karim wa sulthanihil-qadim minasy-syaithanir-rajim. Allahummaftah li abwaba rahmatik)

“Dengan nama Allah. Semoga selawat dan salam tercurah kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku memohon perlindungan kepada Allah Yang Mahaagung dari setan yang terkutuk, dengan wajah-Nya yang mulia dan kekuasaan-Nya yang azali. Ya Allah! Bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu.”

Tata Cara Melaksanakan Umrah Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah — Dr. Abu Bakar Muhammad Zakaria