Lewati ke konten

Panduan Umrah

Halaman bab

Keutamaan Umrah

7 menit bacaTerakhir diperbarui 29 Agustus 2026

Keutamaan Haji dan Umrah

Terdapat banyak hadis tentang keutamaan haji dan umrah. Berikut ini disebutkan beberapa di antaranya:

1. Haji merupakan salah satu amal yang paling utama. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., “Rasulullah ﷺ ditanya, ‘Amal apakah yang paling utama?’

«فَقَالَ إِيمَانٌ بِاللهِ وَرَسُولِهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ حَجٌّ مَبْرُور».

Beliau menjawab, ‘Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.’ Ditanyakan, ‘Kemudian apa?’ Beliau menjawab, ‘Berjihad di jalan Allah.’ Ditanyakan, ‘Kemudian apa?’ Beliau menjawab, ‘Haji yang diterima.’”[1] Dalam hadis lain diriwayatkan bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah ﷺ mengenai amal yang paling utama. Beliau menjawab,

«الإِيمَانُ بِاللَّهِ وَحْدَهُ، ثُمَّ الْجِهَادُ، ثُمَّ حَجَّةٌ بَرَّةٌ تَفْضُلُ سَائِرَ الْعَمَلِ كَمَا بَيْنَ مَطْلِعِ الشَّمْسِ إِلَى مَغْرِبِهَا».

“Beriman kepada Allah Yang Maha Esa, kemudian haji mabrur, yang lebih utama daripada semua amal; perbedaan keutamaannya dibandingkan amal-amal lain adalah seperti perbedaan antara terbit dan terbenamnya matahari.”[2]

2. Balasan bagi haji yang bebas dari dosa adalah surga. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah ﷺ bersabda,

«وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ».

“Dan tidak ada balasan bagi haji mabrur selain surga.”[3]

3. Rasulullah ﷺ menggolongkan haji sebagai jihad. Diriwayatkan dari Aisyah r.a., ia berkata, “Wahai Rasulullah, jihad dianggap sebagai amal yang paling utama; tidakkah kami berjihad?” Beliau menjawab,

«لَكُنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ».

“Jihad terbaik bagi kalian adalah haji mabrur.”[4] Dalam hadis lain diriwayatkan bahwa Aisyah r.a. berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah kami ikut berjihad dan berperang bersama kalian?” Beliau menjawab,

«لَكُنَّ أَحْسَنُ الْجِهَادِ وَأَجْمَلُهُ الْحَجُّ حَجٌّ مَبْرُورٌ».

“Jihad yang terbaik dan terindah bagi kalian adalah haji, yaitu haji mabrur.”[5] Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah ﷺ bersabda,

«جِهَادُ الْكَبِيرِ ، وَالصَّغِيرِ ، وَالضَّعِيفِ ، وَالْمَرْأَةِ : الْحَجُّ ، وَالْعُمْرَةُ».

“Jihad bagi orang lanjut usia, anak yang belum dewasa, orang lemah, dan perempuan adalah haji dan umrah.”[6]

4. Haji menghapus dosa. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah ﷺ bersabda,

«مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ».

“Siapa yang berhaji karena Allah, lalu menjauhi perbuatan dan perkataan yang mengandung unsur seksual serta menjauhi perbuatan yang tidak dibenarkan oleh syariat, maka ia kembali dalam keadaan suci seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.”[7]

Makna hadis ini semakin dikuatkan oleh hadis yang diriwayatkan dari Amr bin al-Ash r.a. Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya,

«أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الإِسْلاَمَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ وَأَنَّ الْهِجْرَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ».

“Tidakkah engkau tahu bahwa masuk Islam menghapus semua dosa sebelumnya, hijrah menghapus semua dosa sebelumnya, dan haji menghapus semua dosa sebelumnya?”[8]

5. Sebagaimana haji, umrah juga menghapus dosa. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah ﷺ bersabda,

«مَنْ أَتَى هَذَا الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ».

“Siapa yang mendatangi Baitullah ini, kemudian menjauhi perbuatan dan perkataan yang mengandung unsur seksual serta menjauhi perbuatan yang bertentangan dengan syariat, maka ia kembali seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya, tanpa dosa.” Menurut Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, yang dimaksud di sini mencakup orang yang berhaji dan orang yang berumrah.[9]

6. Selain menghapus dosa, haji dan umrah juga menghilangkan kemiskinan orang yang menunaikannya. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud r.a., ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda,

«تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ، فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ، وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ».

“Laksanakanlah haji dan umrah secara beriringan, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa sebagaimana embusan tungku pandai besi menghilangkan kotoran besi, emas, dan perak.”[10]

7. Orang-orang yang menunaikan haji dan umrah adalah tamu atau utusan Allah. Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a., Rasulullah ﷺ bersabda,

«الْغَازِي فِي سَبِيلِ اللهِ ، وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ ، وَفْدُ اللهِ ، دَعَاهُمْ ، فَأَجَابُوهُ ، وَسَأَلُوهُ ، فَأَعْطَاهُمْ».

“Orang yang berperang dan meraih kemenangan di jalan Allah, orang yang berhaji, dan orang yang berumrah adalah tamu atau utusan Allah. Allah memanggil mereka, lalu mereka memenuhi panggilan-Nya. Mereka memohon kepada-Nya, lalu Dia memberi mereka.”[11] Dalam hadis lain diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

«الْحُجَّاجُ وَالْعُمَّارُ ، وَفْدُ اللهِ إِنْ دَعَوْهُ أَجَابَهُمْ ، وَإِنِ اسْتَغْفَرُوهُ غَفَرَ لَهُمْ».

“Orang-orang yang menunaikan haji dan umrah adalah tamu atau utusan Allah. Jika mereka berdoa kepada Allah, Dia mengabulkan doa mereka. Jika mereka memohon ampunan kepada-Nya, Dia mengampuni mereka.”[12]

8. Satu umrah ke umrah berikutnya merupakan kafarat bagi dosa dan kesalahan yang terjadi di antara keduanya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah ﷺ bersabda,

«الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا».

“Satu umrah ke umrah berikutnya menjadi kafarat bagi segala dosa yang terjadi di antara keduanya.”[13]

9. Orang yang meninggal setelah berangkat dengan niat berhaji akan terus memperoleh pahala haji. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

«مَنْ خَرَجَ حَاجًّا فَمَاتَ كُتِبَ لَهُ أَجْرُ الْحَاجِّ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ خَرَجَ مُعْتَمِرًا فَمَاتَ كُتِبَ لَهُ أَجْرُ الْمُعْتَمِرِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ».

“Siapa yang berangkat untuk menunaikan haji, kemudian meninggal dunia, maka pahala haji akan terus dicatat baginya hingga hari Kiamat. Siapa yang berangkat untuk menunaikan umrah lalu meninggal dunia, maka pahala umrah akan terus dicatat baginya hingga hari Kiamat.”[14]

10. Allah Ta'ala telah memberikan kedudukan yang sangat mulia kepada umrah pada bulan Ramadan dan menganugerahinya pahala yang setara dengan berhaji bersama Rasulullah ﷺ. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., Rasulullah ﷺ bersabda,

«فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً أَوْ حَجَّةً مَعِي».

“Sesungguhnya umrah pada bulan Ramadan setara dengan haji,” atau beliau bersabda, “setara dengan berhaji bersamaku.”[15]

11. Ketika seseorang berangkat menuju Baitullah, pada setiap langkahnya dicatat satu kebaikan, diampuni satu dosa, dan ditinggikan derajatnya. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a., Rasulullah ﷺ bersabda,

«أَمَّا خُرُوجُكَ مِنْ بَيْتِكَ تَؤُمُّ الْبَيْتَ فَإِنَّ لَكَ بِكُلِّ وَطْأَةٍ تَطَأُهَا رَاحِلَتُكَ يَكْتُبُ اللَّهُ لَكَ بِهَا حَسَنَةً وَيَمْحُو عَنْكَ بِهَا سَيِّئَةً».

“Ketika engkau keluar dari rumah menuju Baitullah, setiap kali tungganganmu menapakkan dan mengangkat kakinya, dicatat satu kebaikan bagimu dan diampuni satu dosamu.”[16]

Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a., Rasulullah ﷺ bersabda,

«فَإِنَّكَ إِذَا خَرَجْتَ مِنْ بَيْتِكَ تَؤُمُّ الْبَيْتَ الْحَرَامِ ، لا تَضَعُ نَاقَتُكَ خُفًّا وَلا تَرْفَعُهُ إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ لَكَ بِهِ حَسَنَةً ، وَحَطَّ عَنْكَ بِهِ خَطِيئَةً ، وَرَفَعَكَ دَرَجَةً»

“Sebab, ketika engkau keluar dari rumah menuju Baitullah, setiap kali unta betinamu menapakkan dan mengangkat kukunya, dicatat satu kebaikan bagimu, diampuni satu dosamu, dan ditinggikan satu derajatmu.”[17]

Perlu diingat bahwa keutamaan-keutamaan ini hanya akan diperoleh oleh orang yang beramal semata-mata untuk meraih keridaan Allah serta menunaikan haji dan umrah sesuai dengan Sunnah Rasulullah ﷺ. Ada dua syarat yang harus dipenuhi agar suatu amal diterima oleh Allah.

Syarat pertama: Dilakukan semata-mata untuk meraih keridaan Allah. Rasulullah ﷺ bersabda,

«إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»

“Sesungguhnya hasil segala amal bergantung pada niat. Setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang diniatkannya.”[18]

Syarat kedua: Sesuai dengan Sunnah Rasulullah ﷺ. Sebab, beliau bersabda,

«مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهْوَ رَدٌّ».

“Siapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak memiliki persetujuan dari kami, maka amal itu tertolak.”[19]

Dengan demikian, hanya amal orang yang semata-mata bertujuan meraih keridaan Allah dan sesuai dengan Sunnah Rasulullah ﷺ yang akan diterima oleh Allah. Sebaliknya, amal orang yang tidak memenuhi kedua syarat tersebut atau salah satunya akan ditolak. Mengenai amal mereka, Allah berfirman,

﴿ وَقَدِمۡنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُواْ مِنۡ عَمَلٖ فَجَعَلۡنَٰهُ هَبَآءٗ مَّنثُورًا ٢٣ ﴾ [الفرقان: ٢٢]

“Dan Kami akan mendatangi segala amal yang telah mereka kerjakan, lalu Kami menjadikannya debu yang beterbangan.”[20]

Sebaliknya, mengenai amal orang yang memenuhi kedua syarat tersebut, Allah berfirman,

﴿ وَمَنۡ أَحۡسَنُ قَوۡلٗا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ٣٣ ﴾ [فصلت: ٣٣]

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah, sedang ia berbuat baik?”[21] Allah juga berfirman,

﴿ بَلَىٰۚ مَنۡ أَسۡلَمَ وَجۡهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحۡسِنٞ فَلَهُۥٓ أَجۡرُهُۥ عِندَ رَبِّهِۦ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ١١٢ ﴾ [البقرة: ١١٢]

“Bahkan, siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah dan ia juga berbuat baik, maka baginya pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak pula bersedih hati.”[22]

Dengan demikian, hadis yang diriwayatkan Umar r.a., “Sesungguhnya hasil segala amal bergantung pada niat,” merupakan tolok ukur amal-amal hati. Adapun hadis yang diriwayatkan Aisyah r.a., “Siapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak memiliki persetujuan dariku, maka amal itu tertolak,” merupakan tolok ukur amal anggota badan. Kedua hadis tersebut memiliki makna yang luas. Tidak ada satu pun pokok dan cabang agama, maupun amal hati dan anggota badan, yang berada di luar cakupannya. Singkatnya, seluruh agama tercakup di dalamnya.

[1]. Bukhari: 62; Muslim: 38.

[2]. Ahmad: 4/342.

[3]. Bukhari: 3771; Muslim: 9431.

[4]. Bukhari: 4872.

[5]. Fathul Bari: 4/1861.

[6]. Nasa'i: 2/557.

[7]. Bukhari: 1521; Muslim: 1350.

[8]. Muslim: 121.

[9]. Fathul Bari: 3/382.

[10]. Tirmidzi: 810.

[11]. Ibnu Majah: 2893; Ibnu Hibban: 3400; Musnad Ahmad: 1489.

[12]. Ibnu Majah: 2883.

[13]. Bukhari: 1773; Muslim: 1394.

[14]. Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 1114.

[15]. Bukhari: 1863; Muslim: 1256.

[16]. Thabrani, al-Mu'jam al-Kabir: 11/55.

[17]. Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 1112.

[18]. Bukhari: 1/9; Muslim: 3/1515.

[19]. Muslim: 3/344.

[20]. Al-Furqan: 23.

[21]. An-Nisa: 125.

[22]. Al-Baqarah: 112.

Haji, Umrah, dan Ziarah

Bab Pertama: Apa Itu Haji dan Umrah, Mengapa, dan Kapan

IslamHouse.com