Jika seseorang tidak mampu menunaikan haji fardu, maka pelaksanaan haji oleh orang lain yang mengambil tanggung jawab untuk mewakilinya disebut haji badal. Ketentuan haji badal terdapat dalam beberapa hadis. Hadis-hadis tersebut disebutkan di bawah ini.
1. Seorang wanita dari kabilah Khats'am berkata kepada Rasulullah (ﷺ), “Wahai Rasulullah (ﷺ), kewajiban yang Allah tetapkan atas hamba-hamba-Nya telah mendapati ayahku dalam keadaan sangat lanjut usia. Ia tidak mampu duduk dengan kokoh di atas kendaraan. Bolehkah aku menunaikan haji untuknya?” Beliau menjawab, “Ya.” Peristiwa ini terjadi pada masa Haji Wada.[1]
2. Diriwayatkan dari Abu Razin al-'Uqaili. Ia datang dan bertanya kepada Rasulullah (ﷺ), “Ayahku telah sangat lanjut usia. Ia tidak mampu menunaikan haji dan umrah, serta tidak mampu menaiki kendaraan untuk bepergian.” Rasulullah (ﷺ) bersabda, “Tunaikanlah haji dan umrah untuk ayahmu.”[2]
3. Rasulullah (ﷺ) mendengar seseorang mengucapkan, لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرَمَةَ—“Labbaik untuk Syubrumah.” Beliau bertanya, “Siapakah Syubrumah?” Orang itu menjawab, “Saudara atau kerabatku.” Beliau bertanya, “Apakah engkau telah menunaikan hajimu sendiri?” Orang itu menjawab, “Belum.” Beliau bersabda, “Tunaikanlah terlebih dahulu hajimu sendiri, kemudian haji untuk Syubrumah.”[3]
Di antara tiga jenis haji, jenis haji badal yang akan dilaksanakan harus ditentukan oleh orang yang hajinya diwakili (المحجوج عنه). Jika ia memerintahkan haji ifrad, maka harus melaksanakan haji ifrad; jika ia memerintahkan haji qiran, maka harus melaksanakan haji qiran; dan jika ia memerintahkan haji tamattu, maka harus melaksanakan haji tamattu. Tidak boleh menyelisihi hal tersebut. Tidak ada ketentuan bahwa haji badal harus berupa haji ifrad. Bahkan, hadis kedua yang disebutkan di atas berbicara tentang haji dan umrah sekaligus. Di dalamnya terdapat isyarat bahwa pelaksana haji badal boleh melaksanakan haji tamattu.
Dalam hadis tidak ditemukan ketentuan yang mewajibkan bahwa jika pelaksana haji badal melaksanakan jenis haji selain ifrad, hajinya tidak sah. Tidak pula terdapat dalil kuat bahwa penyebutan kata “haji” hanya bermakna ifrad. Sebab, dalam sebuah hadis disebutkan bahwa umrah telah menyatu erat dengan haji. دَخَلَتِ اْلُعمْرَةُ ِفْي اْلحَجِّ (Umrah telah masuk ke dalam haji)[4] Oleh karena itu, ketika Rasulullah (ﷺ) mengizinkan wanita dari kabilah Khats'am untuk menunaikan haji badal bagi ayahnya, beliau bersabda, فَحُجِّيْ عَنْهُ “Tunaikanlah haji untuk ayahmu.” Sama sekali tidak ada alasan untuk menyatakan bahwa yang beliau maksud adalah haji tanpa umrah.
Tidak pula tertulis dalam kitab fikih tepercaya mana pun bahwa haji badal hanya boleh berupa haji ifrad. Yang tertulis dalam kitab-kitab fikih adalah bahwa haji harus dilaksanakan sesuai dengan jenis yang diperintahkan oleh orang yang hajinya diwakili. Di sini saya kutip beberapa redaksi dari kitab terkenal Bada'iush Shana'i (بدائع الصنائع)—
إذا أمر بحجة مفردة أو بعمرة مفردة، فقرن فهو مخالف ضامن في قول أبي حنيفة، وقال أبو يوسف ومحمد يجزي ذلك عن الآمر، نستحسن وندع القياس فيه --- ولو أمره أن يحج عنه، فاعتمر ضمن، لأنه خالف، ولو اعتمر، ثم حج من مكة، يضمن النفقة في قولهم جميعا، لأمره له بالحج بسفر، وقد أتى بالحج من غير سفر، لأنه صرف سفره الأول إلى العمرة، فكان مخالفا، فيضمن النفقة —
ولو أمره بالحج عنه بجمع بين إحرام الحج والعمرة، فأحرم بالحج عنه وأحرم بالعمرة عن نفسه، فحج عنه ،واعتمر عن نفسه، صار مخالفا في ظاهر الرواية عن أبي حنيفة.
Artinya, jika ia (orang yang menyuruh pelaksanaan haji badal) memerintahkan untuk melaksanakan haji saja atau umrah saja, sedangkan pelaksana haji badal melaksanakan haji qiran, maka pelaksana haji badal harus memberikan ganti rugi—menurut pendapat Imam Abu Hanifah (rah.). Menurut Imam Abu Yusuf dan Imam Muhammad (r.), hal itu telah tertunaikan atas nama orang yang memberikan perintah. Bahkan, kami menganggapnya sebagai istihsan dan meninggalkan qiyas dalam masalah ini. Jika orang yang menyuruh pelaksanaan haji badal memerintahkan haji, sedangkan pelaksana haji badal melaksanakan umrah, maka ia harus memberikan ganti rugi. Sebab, ia tidak melaksanakan sesuai dengan perintah. Jika ia melaksanakan umrah, lalu setelah itu melaksanakan haji dari Makkah, maka menurut semua ulama ia harus memberikan ganti rugi. Sebab, orang yang menyuruh pelaksanaan haji telah memerintahkan pelaksana haji badal agar melakukan perjalanan tersebut untuk haji, sedangkan ia justru melaksanakannya tanpa perjalanan itu. Sebab, perjalanan pertama telah digunakannya untuk umrah. Dengan demikian, ia telah bertindak menyelisihi perintah, dan karena itulah ia harus memberikan ganti rugi. Jika pemberi perintah menyuruh agar haji dan umrah dilaksanakan sekaligus dalam satu ihram, lalu pelaksana haji badal hanya melaksanakan haji untuk pemberi perintah, sedangkan umrah dilaksanakannya untuk dirinya sendiri, maka ia telah menyelisihi perintah—menurut salah satu riwayat zahir dari Imam Abu Hanifah (rah.).[5]
Kutipan di atas memperjelas bahwa haji harus dilaksanakan sesuai dengan perkataan orang yang menyuruh pelaksanaan haji badal. Jenis haji yang diperintahkannya itulah yang harus dilaksanakan. Terdapat perbedaan pendapat mengenai keadaan-keadaan ketika ganti rugi harus diberikan jika haji tidak dilaksanakan sesuai dengan perintah. Baik Imam Abu Hanifah, Imam Muhammad maupun Imam Abu Yusuf tidak ada yang menyatakan bahwa pelaksana haji badal harus melaksanakan haji ifrad dalam segala keadaan.
[1] - يارسول الله إن فريضة الله على عباده ، أدركت أبي شيخا كبيرا لا يثبت على الراحلة ، أفأحج عنه ؟ قال: نعم ، وذلك في حجة الوداع (Bukhari: hadis no. 1417)
[2] قال يا رسول الله إن أبي شيخ كبير لا يستطيع الحج والعمرة والظعن فقال حج عن أبيك واعتمر (Tirmidzi: hadis no. 852)
[3] - عن ابن عباس أن رسول الله سمع رجلا يقول لبيك عن شبرمة فقال من شبرمة؟ قال أخي أو قريب لي. قال :هل حججت؟ قال لا قال حج عن نفسك ثم حج عن شبرمة (Abu Dawud: hadis no. 1424)
[4] - Muslim: hadis no. 1218
[5] - Bada'iush Shana'i: jilid 2, hlm. 213–214