Lewati ke konten

Panduan Haji

Persiapan Haji

Halaman bab

Keutamaan sepuluh hari pertama bulan Zulhijah

5 menit bacaTerakhir diperbarui 11 September 2026

Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah memiliki keutamaan yang sangat besar. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ. يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ»

‘Tidak ada hari-hari yang amalannya lebih dicintai Allah daripada amalan pada sepuluh hari bulan Dzulhijjah ini.’ Para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah! Bahkan jihad di jalan Allah pun tidak?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Bahkan jihad di jalan Allah pun tidak. Kecuali seseorang yang berangkat berperang di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali dengan sedikit pun dari keduanya.’[1]

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a., Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلا الْعَمَلُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ، فَأَكْثِرُوا فِيهَا مِنَ التَّهْلِيلِ، وَالتكبير والتَّحْمِيدِ، يَعْنِي: أَيَّامَ الْعَشْرِ.»

‘Tidak ada amalan yang lebih dicintai dan lebih agung di sisi Allah daripada melakukan amal saleh pada sepuluh hari ini. Oleh karena itu, perbanyaklah membaca tahlil (la ilaha illallah), takbir (Allahu Akbar), dan tahmid (alhamdulillah) pada waktu ini.’[2]

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«مَا مِنْ أَيَّامٍ أَفْضَلُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ أَيَّامِ عَشَرِ ذِي الْحِجَّةِ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلا مِثْلُهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ قَالَ: إِلا مَنْ عَفَّرَ وَجْهَهُ فِي التُّرَابِ.»

‘Tidak ada hari-hari yang lebih utama di sisi Allah daripada sepuluh hari pertama Dzulhijjah.’ Para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah dalam jihad di jalan Allah pun tidak ada hari-hari yang lebih utama daripadanya?’ Beliau bersabda, ‘Ya, kecuali orang yang dalam jihad membenamkan wajahnya ke tanah.’[3]

Makna hadis-hadis ini adalah bahwa di antara seluruh hari mulia dalam setahun, setiap hari dari sepuluh hari tersebut adalah yang paling utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong umatnya untuk melakukan amal saleh pada hari-hari tersebut. Dorongan beliau ini membuktikan keutamaan masa tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar memperbanyak bacaan tahlil dan takbir pada hari-hari ini, sebagaimana disebutkan di atas dalam hadis Ibnu Abbas r.a.

Pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah terdapat hari Arafah dan hari kurban. Kedua hari tersebut memiliki banyak keutamaan. Alasan lain yang menjadikan hari-hari pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah mulia adalah karena pada hari-hari tersebut terhimpun ibadah-ibadah penting seperti salat, puasa, sedekah, haji, dan kurban, yang tidak dapat ditemukan contohnya pada waktu lain.[4]

Keutamaan amal saleh pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, dari hadis-hadis di atas dapat dipahami bahwa sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan musim terbaik untuk beramal saleh, dan amal saleh yang dilakukan pada hari-hari tersebut lebih dicintai Allah. Dalam sebagian riwayat hadis disebutkan kata أَحَبُّ (‘ahabbu’, yakni paling dicintai), sedangkan dalam sebagian riwayat lainnya digunakan kata أَفْضَلُ (‘afdhalu’, yakni paling utama).

Oleh karena itu, melakukan amal saleh pada waktu ini lebih mulia dan lebih utama daripada melakukan amal saleh pada waktu-waktu lain sepanjang tahun.

Amalan yang dapat dilakukan pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah

1. Melakukan tobat yang tulus

Tobat berarti kembali atau pulang. Yaitu meninggalkan segala perkataan dan perbuatan yang tidak disukai Allah Rabbul ‘Alamin, lalu kembali kepada perkataan dan perbuatan yang disukai-Nya. Bersamaan dengan itu, menyatakan penyesalan dan rasa sesal dari dalam hati karena pernah melakukan perbuatan-perbuatan tersebut pada masa lalu.

2. Menunaikan haji dan umrah

Keutamaan menunaikan haji dan umrah telah dibahas secara terperinci sebelumnya.

3. Berpuasa dan memperbanyak amal saleh

Waktu untuk beramal saleh memang dicintai Allah Rabbul ‘Alamin. Namun, kemuliaan dan pahala amal saleh pada hari-hari penuh berkah ini jauh lebih besar. Tidak diragukan bahwa mereka yang memperoleh kesempatan menunaikan haji pada hari-hari ini sangat beruntung. Mereka hendaknya berpuasa dan melakukan amal saleh sebanyak mungkin pada hari-hari penuh berkah di bulan Dzulhijjah ini.

4. Menyibukkan diri dengan membaca Al-Qur’an dan berzikir

Zikir memiliki kedudukan khusus pada hari-hari ini. Disebutkan dalam hadis:

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a., Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak ada amalan yang lebih dicintai dan lebih agung di sisi Allah Rabbul ‘Alamin daripada melakukan amal saleh pada sepuluh hari ini. Perbanyaklah membaca tahlil (la ilaha illallah), takbir (Allahu Akbar), dan tahmid (alhamdulillah) pada waktu ini.’[5] Selain itu, karena membaca Al-Qur’an merupakan zikir yang paling utama, hendaknya memperbanyak membaca Al-Qur’an.

5. Membaca takbir dengan suara keras

Membaca takbir untuk mengagungkan Allah Rabbul ‘Alamin pada hari-hari ini merupakan sunah. Takbir ini dianjurkan dibaca secara terbuka dan dengan suara keras di masjid, rumah, jalan, pasar, dan di semua tempat. Namun, kaum perempuan hendaknya bertakbir dengan suara pelan. Lafaz takbir tersebut adalah sebagai berikut:

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِله الحَمْدُ.

(Allahu Akbar, Allahu Akbar, la ilaha illallah, wallahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd)

Saat ini, takbir telah menjadi sunah yang ditinggalkan dan hampir punah. Kita semua berkewajiban melakukan penyebarluasan mengenai hal ini demi menghidupkan kembali sunah tersebut. Disebutkan dalam hadis,

مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِيْ، قَدْ أُمِيْتَتْ بَعْدِيْ، فَإِنَّ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلَ مَا عَمِلَ بِهَا، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئاً

‘Barang siapa menghidupkan kembali salah satu sunahku yang telah ditinggalkan setelahku, maka ia akan diberi pahala sebesar pahala orang-orang yang mengamalkannya. Hal itu tidak akan mengurangi sedikit pun pahala mereka yang mengamalkannya.’[6]

Membaca takbir ini secara umum dianjurkan bagi semua orang sejak awal bulan Dzulhijjah hingga berakhirnya hari-hari Tasyrik. Namun, secara khusus sangat ditekankan untuk membaca takbir tersebut setelah setiap salat, mulai setelah salat Subuh pada hari Arafah hingga berakhirnya hari-hari Mina, yaitu sampai salat Asar pada hari ketika selesai melempar jumrah di Mina. Pendapat ini diriwayatkan dari Abdullah bin Mas‘ud dan Ali r.a. Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutnya sebagai pendapat yang paling sahih. Perlu disebutkan bahwa jika seseorang telah berihram, ia juga membaca takbir sesekali di sela-sela talbiyah. Hal ini telah ditetapkan berdasarkan hadis.[7]

[1]. Abu Dawud: 2438; Tirmidzi: 757.

[2]. Musnad Ahmad: 2/75.

[3]. Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 2/15.

[4]. Durusu ‘Asyri Dzulhijjah: 22–23.

[5]. Musnad Ahmad: 2/75.

[6]. Tirmidzi: 677.

[7]. Ibnu Taimiyah, Majmu‘ Fatawa: 24/220.