Lewati ke konten

Panduan Haji

Persiapan Haji

Halaman bab

Doa: Ruh Haji dan Umrah

10 menit bacaTerakhir diperbarui 11 September 2026

Doa adalah amalan yang memiliki kedudukan dan kemuliaan khusus. Doa merupakan sarana untuk mengungkapkan ketergantungan kepada Allah serta kerendahan hati dan permohonan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan doa sebagai ibadah yang paling utama. Beliau bersabda,

«الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ»

‘Doa adalah ibadah.’[1] Beliau juga bersabda,

«لَيْسَ شَيْء أَكرَمَ عَلى الله سُبْحَانَه ِمنَ الدعَاء.»

‘Tidak ada sesuatu pun yang lebih dicintai Allah daripada doa.’[2] Diriwayatkan dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو، لَيْسَ بِإِثْمٍ وَلاَ بِقَطِيعَةِ رَحِمٍ ، إِلاَّ أَعْطَاهُ إِحْدَى ثَلاَثٍ : إِمَّا أَنْ يُعَجِّلَ لَهُ دَعْوَتَهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ ، وَإِمَّا أَنْ يَدْفَعَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ، قَالَ : إِذًا نُكْثِرُ ، قَالَ : اللَّهُ أَكْثَرُ».

‘Apabila seorang Muslim memanjatkan suatu doa, sementara dalam doa tersebut tidak terdapat perkara dosa dan tidak pula permohonan untuk memutuskan hubungan kekerabatan, maka Allah pasti memberinya salah satu dari tiga perkara: boleh jadi hasil doanya segera diberikan kepadanya di dunia, atau disimpan untuknya di akhirat, atau dijauhkan darinya keburukan yang sebanding dengan doanya.’ Seorang sahabat berkata, ‘Kalau begitu, kami akan memperbanyak doa.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah pun akan memberi lebih banyak.’[3]

Doa memiliki hubungan yang sangat erat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam pelaksanaan haji. Beliau berdoa kepada Rabbnya ketika tawaf.[4] Beliau berdoa sambil berdiri di atas Safa dan Marwah; di Arafah, beliau duduk di atas untanya seraya mengangkat kedua tangan hingga ke dada, lalu berdoa panjang dan menangis seperti seorang miskin yang meminta makanan; di tempat beliau berwukuf di Arafah, beliau tetap berada di sana dan berdoa sejak selesai menunaikan salat setelah matahari tergelincir hingga matahari terbenam. Di Masy‘aril Haram, Muzdalifah, beliau terus memanjatkan permohonan dan munajat yang panjang setelah salat Subuh hingga langit menjadi terang.[5] Pada hari-hari Tasyriq, setelah melempar kerikil pada dua jamrah pertama, beliau berdiri seraya mengangkat kedua tangan dan berdoa dalam waktu yang lama.[6]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

فَقَدْ تَضَمّنَتْ حَجّتُهُ صلى الله عليه وسلم سِتّ وَقَفَاتٍ لِلدّعَاءِ. الْمَوْقِفُ الْأَوّلُ عَلَى الصّفَا ، وَالثّانِي : عَلَى الْمَرْوَةِ ، وَالثّالِثُ بِعَرَفَةَ ، وَالرّابِعُ بِمُزْدَلِفَةَ ، وَالْخَامِسُ عِنْدَ الْجَمْرَةِ الْأُولَى ، وَالسّادِسُ عِنْدَ الْجَمْرَةِ الثّانِيَةِ

‘Haji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara khusus dipenuhi doa di enam tempat. Pertama di Safa, kedua di Marwah, ketiga di Arafah, keempat di Muzdalifah, kelima di Jamrah pertama, dan keenam di Jamrah kedua.’[7]

Ini hanyalah sebagian dari riwayat doa yang dinukil dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal, sejak berangkat dari Madinah hingga kembali ke sana, beliau tidak pernah berhenti memuji dan berzikir kepada Allah. Selama masa tersebut, lisan beliau senantiasa basah dengan zikir kepada Allah. Beliau banyak memuji Allah dengan pujian yang sesuai dengan kemuliaan-Nya, seperti dalam talbiyah, takbir, tahlil, tasbih, dan tahmid; terkadang sambil duduk, terkadang berdiri, dan terkadang dalam perjalanan. Dengan kata lain, dalam segala keadaan beliau senantiasa memuji Allah. Apabila kita mencermati berbagai keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama haji, perkara ini akan tampak dengan sangat jelas bagi kita.

Perlu diketahui bahwa riwayat mengenai doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pujian beliau kepada Rabbnya selama haji hanyalah sedikit sekali jika dibandingkan dengan bagian yang tidak diriwayatkan. Sebab, doa adalah rahasia tersembunyi antara seorang hamba dan Rabbnya. Setiap orang secara diam-diam menyampaikan permohonan dan munajat yang mendalam di hadapan Rabbnya mengenai segala kebutuhannya. Bagian yang diungkapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah untuk menetapkan teladan bagi umat agar mereka dapat mengikuti beliau.

Doa dan zikir merupakan salah satu tujuan dan sasaran utama haji. Hal ini diisyaratkan dalam ayat berikut:

﴿فَإِذَا قَضَيۡتُم مَّنَٰسِكَكُمۡ فَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَذِكۡرِكُمۡ ءَابَآءَكُمۡ أَوۡ أَشَدَّ ذِكۡرٗاۗ﴾ [البقرة: ٢٠٠]

‘Kemudian apabila kalian telah menyelesaikan amalan-amalan haji kalian, maka ingatlah Allah sebagaimana kalian dahulu mengingat nenek moyang kalian, bahkan dengan ingatan yang lebih kuat.’[8]

Allah Ta‘ala juga berfirman,

﴿ لِّيَشۡهَدُواْ مَنَٰفِعَ لَهُمۡ وَيَذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ ﴾ [الحج: ٢٨]

‘Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan menyebut nama Allah.’[9] Bahkan bukan hanya itu, seluruh amalan haji disyariatkan dengan tujuan menegakkan zikir kepada Allah. Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«إِنَّمَا جُعِلَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ وَبَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَرَمْىُ الْجِمَارِ لإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ».

‘Tawaf di Baitullah, sa‘i antara Safa dan Marwah, serta melempar kerikil disyariatkan dengan tujuan menegakkan zikir kepada Allah.’[10]

Oleh karena itu, orang yang berhasil adalah orang yang dalam hal ini mengikuti jejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, memperbanyak doa, zikir, dan tangisan; mengungkapkan ketergantungannya kepada Allah; menyampaikan kebutuhannya; merendahkan diri di hadapan Maulanya dan hadir dengan penuh kehinaan. Dengan hati yang sadar dan penuh kekhusyukan, ia memohon kepada-Nya melalui doa-doa yang memiliki makna luas.

Adab-adab doa:

Doa memiliki beberapa adab yang apabila diikuti, doa tersebut diharapkan akan dikabulkan. Berikut ini beberapa adab doa: dikabulkan dikabulkan

1. Berdoa hanya kepada Allah Ta‘ala dengan penuh keikhlasan. Allah Ta‘ala berfirman,

﴿ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ ﴾ [غافر: ٦٠]

‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan doa kalian.’[11]

2. Berdoa dalam keadaan berwudu. Karena doa merupakan ibadah, maka lebih utama dilakukan dalam keadaan berwudu.

Berdoa dengan menghadapkan telapak tangan ke arah wajah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ فَاسْأَلُوهُ بِبُطُونِ أَكُفِّكُمْ وَلاَ تَسْأَلُوهُ بِظُهُورِهَا».

‘Apabila kalian memohon kepada Allah, maka memohonlah dengan telapak tangan, bukan dengan punggung tangan.’[12] Mengenai amalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diriwayatkan,

«كَانَ إِذَا دَعا جَعَلَ بَاطنَ كَفِّهِ إِلَى وَجْهِهِ».

‘Ketika berdoa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapkan telapak tangan beliau ke arah wajah.’[13] Inilah cara terbaik untuk mengungkapkan kebutuhan dan kerendahan hati, sebagaimana orang yang membutuhkan mengulurkan tangannya dengan rendah hati kepada pemberi karena berharap memperoleh sesuatu.

3. Mengangkat kedua tangan. Jika diperlukan, mengangkatnya begitu tinggi hingga bagian bawah ketiak terlihat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«مَا مِنْ عَبْدٍ يَرْفَعُ يَدَيْهِ يَسْأَلُ اللهَ مَسْأَلَةً إِلاَّ أتَاهَا إِيَّاهُ».

‘Barang siapa mengangkat kedua tangannya dan memohon sesuatu kepada Allah, maka Allah akan memberikannya kepadanya.’[14]

4. Memuji Allah Ta‘ala serta mengucapkan salawat dan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Diriwayatkan dari Fudhalah bin Ubaid radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang berdoa dalam salat tanpa memuji Allah Ta‘ala dan tanpa mengucapkan salawat dan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda, ‘Orang ini telah tergesa-gesa.’ Setelah itu beliau bersabda,

«إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ رَبِّهِ جَلَّ وَعَزَّ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصَلِّى عَلَى النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ يَدْعُو بَعْدُ بِمَا شَاءَ»

‘Apabila salah seorang dari kalian berdoa, hendaklah ia terlebih dahulu memuji dan menyanjung Rabbnya. Kemudian hendaklah ia mengucapkan salawat dan salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu, silakan ia memohon apa saja yang dikehendakinya.’[15] Dalam hadis lain disebutkan,

«كُلُّ دُعاءٍ مَحْجُوبٌ حَتَّى يُصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ».

‘Setiap doa akan tertahan hingga salawat diucapkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.’[16]

Mendoakan kebaikan bagi diri sendiri dan orang-orang terdekat, serta tidak mendoakan keburukan atau kejelekan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«لاَ يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ».

‘Doa seorang hamba akan dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk suatu perbuatan dosa atau pemutusan hubungan kekerabatan.’[17] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

«لاَ تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلاَ تَدْعُوا عَلَى أَوْلاَدِكُمْ وَلاَ تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ».

‘Janganlah kalian mendoakan keburukan atas diri kalian sendiri, anak-anak kalian, dan harta kalian.’[18]

5. Berdoa kepada Allah dengan keyakinan kuat bahwa doa akan dikabulkan.

«اُدْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ لا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاهٍ».

‘Berdoalah kepada Allah dengan keyakinan kuat bahwa doa kalian akan dikabulkan. Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa yang keluar dari hati yang lalai dan lengah.’[19]

Tidak melampaui batas ketika berdoa. Sa‘d radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Wahai anakku! Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:’

«سَيَكُونُ قَوْمٌ يَعْتَدُونَ فِى الدُّعَاءِ».

‘Tidak lama lagi akan datang suatu kaum yang melampaui batas dalam berdoa.’[20]

Melampaui batas tersebut ialah memohon sesuatu yang mustahil terjadi, seperti berdoa agar menjadi nabi atau malaikat, atau berdoa untuk memperoleh bagian tertentu dari surga.

6. Menunjukkan kerendahan hati dan memohon dengan sungguh-sungguh. Allah Ta‘ala berfirman,

﴿ وَٱذۡكُر رَّبَّكَ فِي نَفۡسِكَ تَضَرُّعٗا وَخِيفَةٗ وَدُونَ ٱلۡجَهۡرِ مِنَ ٱلۡقَوۡلِ بِٱلۡغُدُوِّ وَٱلۡأٓصَالِ ﴾ [الاعراف: ٢٠٥]

‘Dan ingatlah Rabbmu dalam hatimu pada waktu pagi dan petang dengan merendahkan diri, rasa takut, dan dengan suara yang tidak keras.’[21]

7. Menggunakan kata dan kalimat bermakna luas yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, kata dan kalimat yang digunakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersifat jami‘, yakni sempurna dan mencakup makna yang luas. Dalam sebuah riwayat disebutkan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَسْتَحِبُّ الْجَوَامِعَ مِنَ الدُّعَاءِ وَيَدَعُ مَا سِوَى ذَلِكَ.

‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai doa-doa yang bermakna luas dan meninggalkan doa-doa lainnya.’[22]

8. Berdoa dengan bertawasul melalui nama-nama Allah Ta‘ala yang indah dan sifat-sifat-Nya yang luhur. Allah Ta‘ala berfirman,

﴿ وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ ﴾ [الاعراف: ١٨٠]

‘Allah memiliki nama-nama yang indah, maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama tersebut.’[23]

9. Berdoa dengan bertawasul melalui iman dan amal saleh.

a. Contoh berdoa dengan bertawasul melalui iman disebutkan dalam Al-Qur’anul Karim,

﴿ رَّبَّنَآ إِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِيٗا يُنَادِي لِلۡإِيمَٰنِ أَنۡ ءَامِنُواْ بِرَبِّكُمۡ فَ‍َٔامَنَّاۚ رَبَّنَا فَٱغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرۡ عَنَّا سَيِّ‍َٔاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ ٱلۡأَبۡرَارِ ١٩٣ ﴾ [ال عمران: ١٩٣]

‘Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami telah mendengar seorang penyeru yang menyeru kepada keimanan, “Berimanlah kalian kepada Rabb kalian.” Maka kami pun beriman. Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami, hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang berbakti.’[24]

b. Contoh berdoa dengan bertawasul melalui amal saleh disebutkan dalam hadis,

‘Tiga orang dalam perjalanan berlindung di sebuah gua untuk bermalam. Tiba-tiba sebuah batu jatuh dari gunung dan menutup mulut gua. Dalam keadaan tidak berdaya seperti itu, masing-masing dari mereka berdoa dengan bertawasul melalui amal salehnya. Orang pertama bertawasul melalui baktinya kepada kedua orang tuanya yang telah lanjut usia, orang kedua melalui tindakannya menjaga diri dari hubungan seksual yang haram, dan orang ketiga melalui penjagaannya terhadap amanah dengan semestinya. Mereka berdoa kepada Allah agar dibebaskan dari bencana besar berupa batu tersebut. Berkat doa mereka, batu itu bergeser. Mereka semua keluar dari gua dengan selamat.’[25]

10. Berdoa dengan mengakui dosa-dosa sendiri. Sebagai contoh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Doa yang digunakan Yunus ‘alaihissalam untuk menyeru Allah Ta‘ala ketika berada di dalam perut ikan (yaitu لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِين La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazh-zhalimin. “Tidak ada ilah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.”), apabila seorang Muslim berdoa dengannya, Allah Ta‘ala akan mengabulkan doanya.’[26]

11. Tidak berdoa dengan suara keras; berdoa dengan suara rendah. Allah Ta‘ala berfirman,

﴿ ٱدۡعُواْ رَبَّكُمۡ تَضَرُّعٗا وَخُفۡيَةًۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُعۡتَدِينَ ٥٥ ﴾ [الاعراف: ٥٥]

‘Berdoalah kepada Rabb kalian dengan merendahkan diri dan dengan suara lirih. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.’[27] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ، فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا ، إِنَّهُ مَعَكُمْ ، إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ».

‘Wahai sekalian manusia, kasihilah diri kalian dan berdoalah dengan suara rendah. Sebab, kalian tidak sedang menyeru Zat yang tuli atau tidak hadir. Sesungguhnya Dia, dengan ilmu-Nya, bersama kalian. Dia Maha Mendengar lagi Mahadekat.’[28]

12. Memohon kepada Allah berulang kali. Sebab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal tersebut. Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

كَانَ رسول الله صلى الله عليه وسلم يُعْجِبُهُ أَنْ يَدْعُوَ ثَلَاثًا، وَيَسْتَغْفِرَ ثَلَاثًا.

‘Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai mengucapkan kalimat-kalimat doa sebanyak tiga kali dan beristigfar sebanyak tiga kali.’[29]

13. Berdoa dengan menghadap kiblat. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

اسْتَقْبَلَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم الْكَعْبَةَ فَدَعَا عَلَى نَفَرٍ مِنْ قُرَيْشٍ ، عَلَى شَيْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ ، وَعُتْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ وَالْوَلِيدِ بْنِ عُتْبَةَ ، وَأَبِى جَهْلِ بْنِ هِشَامٍ . فَأَشْهَدُ بِاللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُهُمْ صَرْعَى ، قَدْ غَيَّرَتْهُمُ الشَّمْسُ ، وَكَانَ يَوْمًا حَارًّا .

‘Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap Ka‘bah. Kemudian beliau mendoakan keburukan atas beberapa orang Quraisy, yaitu Syaibah bin Rabi‘ah, Utbah bin Rabi‘ah, Walid bin Utbah, dan Abu Jahal bin Hisyam. Demi Allah, aku melihat mereka tergeletak dalam keadaan mati. Terik matahari telah mengubah mereka. Saat itu adalah hari yang panas.’[30]

[1]. Tirmidzi: 2969.

[2]. Shahih Ibnu Hibban: 870.

[3]. Al-Adabul Mufrad: 710.

[4]. Abu Dawud: 1892.

[5]. Muslim: 1218.

[6]. Bukhari: 1751.

[7]. Zadul Ma‘ad: 2/263.

[8]. Al-Baqarah: 200.

[9]. Al-Hajj: 28.

[10]. Abu Dawud: 1890.

[11]. Ghafir: 60.

[12]. Abu Dawud: 1486.

[13]. Thabarani: 11/122-34.

[14]. Tirmidzi: 3603.

[15]. Abu Dawud: 1483.

[16]. Dailami: 3/4791; Shahihul Jami‘: 4523.

[17]. Muslim: 7112.

[18]. Muslim: 3009.

[19]. Tirmidzi: 3479.

[20]. Ahmad: 1/172.

[21]. Al-A‘raf: 205.

[22]. Abu Dawud: 1482.

[23]. Al-A‘raf: 180.

[24]. Ali Imran: 193.

[25]. Bukhari: 2111.

[26]. Tirmidzi: 5053; Mustadrak Hakim: 4443.

[27]. Al-A‘raf: 55.

[28]. Bukhari: 9229; Muslim: 2704.

[29]. Musnad Ahmad: 1/394.

[30]. Bukhari: 3960; Muslim: 1794.