Lewati ke konten

Panduan Haji

10 Zulhijah

Halaman bab

Tata cara melontar jumrah

1 menit bacaTerakhir diperbarui 10 September 2026

Sambil membaca talbiyah, Anda akan bergerak menuju jamarat. Pada jamrah ketiga dari arah Mina dan pertama dari arah Makkah—yang disebut Jamratul Aqabah atau Jamratul Kubra (jamrah besar)—Anda akan melemparkan 7 butir kerikil. Berdirilah dengan posisi Ka‘bah di sebelah kiri dan Mina di sebelah kanan; berdiri dengan cara demikian adalah sunnah. Namun, melempar dari semua arah lainnya juga diperbolehkan. Dengan mengucapkan Allahu Akbar (اللَّهُ أَكْبَرُ), lemparkan setiap kerikil satu per satu. Lemparlah kerikil dengan khusyuk dan penuh ketundukan. Ingatlah, kerikil-kerikil tersebut harus jatuh pada sasaran, yaitu mengenai tiang atau masuk ke dalam bak. Melempar kerikil merupakan salah satu syiar Allah. Sebab, Allah Ta‘ala berfirman,

﴿وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ ٣٢ ﴾ [الحج: ٣٢]

‘Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.’[1] Diriwayatkan dari Aisyah r.a., Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

«إِنَّمَا جُعِلَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ وَبَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَرَمْىُ الْجِمَارِ لإِقَامَةِ ذِكْرِ اللهِ».

‘Ketentuan tawaf di Baitullah, sa‘i antara Safa dan Marwah, serta melempar kerikil di jamarat ditetapkan semata-mata untuk menegakkan zikir kepada Allah.’[2] Oleh karena itu, ketenangan wajib dijaga saat melempar kerikil agar tidak terjadi penghinaan terhadap syiar Allah. Tidak sepatutnya melemparkan sepatu atau batu besar dengan amarah dan kemurkaan; bahkan hal itu merupakan kesalahan yang sangat serius. Sebagian orang beranggapan bahwa setan terikat di jamarat, tetapi anggapan itu tidak benar. Perkataan semacam itu tidak memiliki dasar apa pun.

[1]. Al-Hajj: 32.

[2]. Abu Dawud: 1890.